Bandarlampung, Seminung.com – Penunjukan Muhammad Firsada sebagai Komisaris Utama (Komut) Bank Lampung dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB), Sabtu (5/7/2025), berbuntut panjang. Keputusan yang diumumkan langsung oleh Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, itu menuai kritik keras dari kalangan aktivis dan masyarakat sipil.
Kritik tersebut terutama datang dari mereka yang menilai penunjukan ini tidak mengedepankan kapasitas dan integritas, melainkan lebih bernuansa ambisi politik dan loyalitas pribadi.
Ketua Umum Jaringan Penggiat Sosial Indonesia (JPSI), Ichwan, menyebut penunjukan Firsada sebagai langkah keliru. Ia menyayangkan Gubernur Lampung tidak menempatkan Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) yang secara struktur merupakan pejabat tertinggi birokrasi di posisi Komisaris Utama Bank milik daerah itu.
“Komut Bank Lampung idealnya adalah Sekdaprov, karena posisinya langsung terhubung dengan kepala daerah dan punya kapasitas untuk menjembatani kepentingan provinsi dan kabupaten/kota,” ujar Ichwan, Senin (6/7/2025).
Lebih lanjut, Ichwan menilai Muhammad Firsada tidak memiliki pengalaman strategis dalam pengelolaan lembaga keuangan dan tidak berada di posisi struktural yang cukup kuat di lingkungan Pemprov Lampung.
“Penunjukan ini terkesan ambisius. Kami tidak melihat kompetensi yang relevan atau rekam jejak yang bisa dijadikan dasar kuat. Ini berisiko mengganggu arah pengawasan dan koordinasi di tubuh Bank Lampung,” tegasnya.
Nada serupa juga disampaikan Ketua LSM Aliansi Masyarakat Lampung (AML), Sunawardi. Ia mempertanyakan proses dan mekanisme pengangkatan yang terkesan tertutup dan elitis.
“Penunjukan ini tidak transparan. Gubernur Lampung seolah mengabaikan aspirasi publik dan memilih orang yang justru menimbulkan tanda tanya besar di tengah masyarakat,” kata Sunawardi.
Menurutnya, jabatan Komisaris Utama bukan tempat “Balas Jasa Politik”, tapi posisi yang menuntut kompetensi tinggi dan integritas tanpa kompromi.
“Bank Lampung adalah BUMD strategis, bukan tempat uji coba. Jangan sampai karena ambisi segelintir orang, bank ini malah kehilangan arah dan kepercayaan publik,” tandasnya. (*)













